Ku usap-usap tumpukan koran di depanku. Dari lembaran-lembaran koran inilah sering kutemukan hal-hal yang membuatku mengerutkan dahi karena aku tak mengerti. Dulu aku tak habis pikir kenapa seorang pria gagah yang katanya punya kedudukan dan jabatan yang terhormat, bisa menjadi tersangka pembunuhan hanya gara-gara seorang wanita. Duh, tak sampai akalku memikirkan kejadian itu.
Kemudian muncul lagi berita-berita lain yang ternyata makin diminati banyak orang. Ada berita tentang perseteruan antara Buaya vs Cicak. Orang-orang pintar itu memang pintar sekali memilih kata-kata kiasan. Mengapa mereka menamakan buaya dan cicak ? Mengapa tidak anjing dan kucing yang jelas-jelas selama ini bermusuhan ?
Lalu banyak orang yang mencari koran yang katanya memuat berita tentang rekaman KPK. Rekaman percakapan sih kata mereka, tapi mengapa orang-orang jadi ingin tahu hal-hal yang bukan urusannya ? Padahal dulu emakku pernah mengajariku agar aku tak ikut mencuri dengar percakapan orang lain. Tapi kok malah sekarang orang suka mendengarkan percakapan orang lain ya ? Aduh..., makin tak mengerti aku.
Makin lama makin banyak pertanyaan yang menumpuk di dalam otak-ku ini. Ya menumpuk..!! Astaga.., ngomong-ngomong tentang menumpuk.... ternyata masih banyak koran yang menumpuk di depanku. Itu berarti belum banyak koran yang bisa kujual hari ini. Ampuni aku ya Allah..., pagi ini aku terlalu banyak melamun sampai-sampai lupa menjajakan koranku.
Segera aku beranjak dari bawah pohon mangga yang tak jauh dari perempatan jalan. Aku buru-buru menawarkan koranku pada pengendara kendaraan bermotor yang sedang berhenti di traffic light itu. Aku ingat, tadi sebelum aku berangkat menjajakan koran ini, Bayu anak bungsuku memintaku membawakannya sepotong tempe goreng saat aku pulang nanti. Sepotong tempe goreng yang akan menjadi lauk istimewanya siang nanti menggantikan menu nasi garam yang selama ini menjadi satu-satunya menu yang mampu aku sajikan.
Ingatan akan tempe goreng itu membuatku semakin bersemangat menjajakan koranku. Aku bertekad kali ini aku harus bisa mewujudkan keinginannya yang sebenarnya sangat sederhana tapi selama ini sulit aku penuhi. Lupakan dulu politik yang aku tak tahu... Semoga saja orang-orang pintar disana, mau melupakan sejenak segala macam benturan politik yang terjadi. Semoga orang-orang yang tak paham seperti diriku ini tak akan lagi menjadi korban dari benturan-benturan itu. Semoga.....
*sebuah catatan tentang orang yang merasa asing di dunianya*
Gambar diambil dari
sini