THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Senin, 09 November 2009

Menikmati senja


Masih berkutat dengan senja. Entah mengapa, aku sangat suka dengan suasana senja. Ada ketenangan dan kedamaian di dalamnya. Suasana yang memberikan kebahagiaan dalam kesunyian.

Senja bagiku akan terlihat sangat indah meskipun terlihat dari balik rimbun pepohonan. Senja semakin mempesona saat terlihat dari kilau permukaan air. Pesonanya tak akan terlupakan siapa saja yang memandangnya. Kuasa Allah sungguh sangat istimewa. Subhanallah... Seandainya, keindahan seperti itu dapat tersaji di depan mata setiap waktu... alangkah indahnya.

Aku hanya ingin memandang senja, sepuasnya. Merengkuh indahnya, menggenggam damainya dan mereguk pesonanya. Aku hanya tak ingin kehilangan senja. Apakah kau juga begitu kawan...?

Pesona senja menghadirkan kesadaran buatku. Sebenarnya, keindahan dan kebahagiaan itu sederhana saja. Bahkan ketenangan dan kedamaian dapat kita peroleh dengan mudahnya. Tak perlu jauh-jauh kita mencarinya. Di hati kitalah Allah meletakkan kunci segalanya.... Kunci untuk bisa mensyukuri segala nikmat yang telah diberikanNYA. Karena tanpa kunci itu, senja pun tak akan mampu membuat kita terpesona....

Bacanya dilanjutkan yuk......

Sabtu, 07 November 2009

Kangen

Gambar diambil dari sini

Kang.., aku kangen
Sudah lama rasanya tak kau peluk diriku
kau usap rambutku
dan kau elus pipiku
seperti dulu...

Kang.., aku kangen
Ingin kutatap kilau di matamu
serta manisnya senyummu
yang semoga hanya kau berikan
untukku...

Kang.., pulanglah
aku ingin segera dalam pelukmu
dan tumpahkan segala galau hatiku
Kang, aku butuh rasa aman di dekatmu
karna mulai ada yang mencoba merayu
serta mengusik hatiku
agar aku berpaling darimu

Kang.., aku kangen dalam dekapmu
selalu....

*untuk seorang sahabat yang telah kembali memeluk cintanya*

Bacanya dilanjutkan yuk......

Kamis, 05 November 2009

Yang tak aku mengerti

Aku duduk terpekur. Sungguh banyak hal yang tak ku mengerti. Begitu banyak yang tak ku pahami. Aku mengeluh karena semakin hari semakin banyak hal yang tak mampu diterima oleh otak-ku yang memang tak mengenyam pendidikan tinggi ini. Aku merasa terasing, karena seolah-olah diri-ku bukanlah bagian dari dunia yang ada sekarang. Semua itu menyangkut kata yang sangat jauh dari jangkauanku : politik.

Politik... politik... Aku sungguh tak paham saat dunia di sekitar-ku kembali bicara soal isu-isu politik yang makin panas. Istilahnya aneh-aneh. Ada politik uang, elit politik, politik balas budi bahkan konspirasi politik. Apa itu konspirasi..? Sayang aku tak punya kamus seperti yang dipunyai orang-orang pintar itu. Lebih sayang lagi, aku tak punya teman yang bisa aku tanya tentang semua itu. Mereka sibuk sendiri dengan dunianya, dan tak ada yang mau repot memikirkan politik.

Ku usap-usap tumpukan koran di depanku. Dari lembaran-lembaran koran inilah sering kutemukan hal-hal yang membuatku mengerutkan dahi karena aku tak mengerti. Dulu aku tak habis pikir kenapa seorang pria gagah yang katanya punya kedudukan dan jabatan yang terhormat, bisa menjadi tersangka pembunuhan hanya gara-gara seorang wanita. Duh, tak sampai akalku memikirkan kejadian itu.

Kemudian muncul lagi berita-berita lain yang ternyata makin diminati banyak orang. Ada berita tentang perseteruan antara Buaya vs Cicak. Orang-orang pintar itu memang pintar sekali memilih kata-kata kiasan. Mengapa mereka menamakan buaya dan cicak ? Mengapa tidak anjing dan kucing yang jelas-jelas selama ini bermusuhan ?

Lalu banyak orang yang mencari koran yang katanya memuat berita tentang rekaman KPK. Rekaman percakapan sih kata mereka, tapi mengapa orang-orang jadi ingin tahu hal-hal yang bukan urusannya ? Padahal dulu emakku pernah mengajariku agar aku tak ikut mencuri dengar percakapan orang lain. Tapi kok malah sekarang orang suka mendengarkan percakapan orang lain ya ? Aduh..., makin tak mengerti aku.

Makin lama makin banyak pertanyaan yang menumpuk di dalam otak-ku ini. Ya menumpuk..!! Astaga.., ngomong-ngomong tentang menumpuk.... ternyata masih banyak koran yang menumpuk di depanku. Itu berarti belum banyak koran yang bisa kujual hari ini. Ampuni aku ya Allah..., pagi ini aku terlalu banyak melamun sampai-sampai lupa menjajakan koranku.

Segera aku beranjak dari bawah pohon mangga yang tak jauh dari perempatan jalan. Aku buru-buru menawarkan koranku pada pengendara kendaraan bermotor yang sedang berhenti di traffic light itu. Aku ingat, tadi sebelum aku berangkat menjajakan koran ini, Bayu anak bungsuku memintaku membawakannya sepotong tempe goreng saat aku pulang nanti. Sepotong tempe goreng yang akan menjadi lauk istimewanya siang nanti menggantikan menu nasi garam yang selama ini menjadi satu-satunya menu yang mampu aku sajikan.

Ingatan akan tempe goreng itu membuatku semakin bersemangat menjajakan koranku. Aku bertekad kali ini aku harus bisa mewujudkan keinginannya yang sebenarnya sangat sederhana tapi selama ini sulit aku penuhi. Lupakan dulu politik yang aku tak tahu... Semoga saja orang-orang pintar disana, mau melupakan sejenak segala macam benturan politik yang terjadi. Semoga orang-orang yang tak paham seperti diriku ini tak akan lagi menjadi korban dari benturan-benturan itu. Semoga.....

*sebuah catatan tentang orang yang merasa asing di dunianya*
Gambar diambil dari sini

Bacanya dilanjutkan yuk......

Selasa, 03 November 2009

Bangku di taman itu

Kubayangkan, alangkah menyenangkan jika di kotaku ada sebuah taman yang nyaman. Taman yang ditumbuhi pohon-pohon rindang. Tentu tak ketinggalan dengan bunga-bunga dan bangku taman. Ya.., bangku taman yang terbuat dari kayu. Sudah lama aku memimpikan hal itu ada di taman kotaku.

Kubayangkan, jika ada bangku di taman itu... pasti aku akan sering meluangkan waktuku di sana saat senja datang menyapa. Sambil menikmati indahnya alam dan sejuknya hembusan angin senja. Pasti menyenangkan sekali melakukan hal itu, suatu saat kelak.

Masih dalam bayanganku.., aku duduk di bangku taman itu, saat usiaku pun mulai senja. Duduk diam, tanpa kata. Hanya diam. Yang terasa hanya kedamaian dan ketenangan. Terlepas dari hiruk pikuk dunia, terbebas dari bisingnya berbagai ulah manusia. Santai dan nyaman.

Saat kelak aku duduk di bangku taman itu, pasti aku akan enggan beranjak pergi. Rasa enggan yang muncul dari rasa tidak rela melepaskan ketenangan, kedamaian dan kenyamanan di sana. Meskipun akhirnya aku harus mengalah oleh datangnya malam, aku pasti akan kembali lagi esok hari... untuk duduk di bangku taman itu lagi.

Mungkin ini adalah impian sederhana yang juga dimiliki oleh banyak orang yang kini telah memasuki masa senja. Keinginan sederhana, namun ternyata sulit untuk terpenuhi. Ternyata duduk di bangku taman, meskipun hanya terbuat dari kayu, lebih mahal harganya daripada duduk di kursi empuk pada sebuah plaza.... Entah mengapa...

* Gambar diambil dari sini.

Bacanya dilanjutkan yuk......

Minggu, 01 November 2009

Merubah sudut pandang

Sudut pandang membuat perbedaan yang sangat besar terhadap sebuah peristiwa. Hal itulah yang aku alami beberapa hari terakhir ini. Mulanya, aku merasa jengkel luar biasa karena melihat seseorang yang bersikap dan berbicara semaunya. Padahal, mengingat posisinya, maka apa yang dilakukannya dan diucapkannya itu akan mempengaruhi banyak orang yang bekerja bersamanya.

Sudah beberapa kali dia seolah melepas tanggung jawabnya dan menyerahkan begitu saja kepada orang lain. Berulang kali pula dia tak mengambil keputusan di saat-saat yang sangat penting. Lebih parah lagi, apa yang dikatakannya sama sekali tak mencerminkan apa yang telah diperbuatnya. Yang terjadi kemudian adalah pekerjaannya jadi sangat terganggu dan nyaris tak ada yang beres.

Bukan hanya aku yang jengkel dan terganggu karenanya. Ternyata hampir semua temanku juga merasakan hal yang sama. Telah banyak orang yang akhirnya menjadi 'korban' akibat sikap dan ucapannya. Rasanya kehadirannya justru membuat pekerjaan menjadi semakin terasa berat. Malah terkadang, ketidak-hadirannya justru membuat banyak orang bernafas lega.

Namun..., 2 hari yang lalu sudut pandangku berubah drastis terhadapnya. Secara tak sengaja, aku menemukan fakta 'baru' tentang dirinya. Ternyata, selama beberapa bulan ini dia sedang terlilit masalah keluarga yang sangat berat dan rumit. Hal itu membuatnya sangat stress. Namun, dia berusaha untuk menyembunyikan masalah itu dari orang lain dan mencoba untuk menghadapinya sendiri.

Masalah pribadinya itu tentu saja membuatnya sangat tertekan. Belum lagi ditambah dengan beban pekerjaan yang saat ini sedang sangat besar. Tekanan dari kedua sisi ini membuatnya menjadi sangat labil dan sering lepas kontrol. Tentu saja hal itu akhirnya berimbas kepada orang lain juga, yaitu teman-teman kerjanya. Hanya bedanya, dulu saat aku belum mengetahui bahwa dia memiliki masalah pribadi yang sangat serius, aku sangat jengkel terhadapnya. Namun setelah aku secara tak sengaja mengetahui masalah pribadinya, aku jadi merasa kasihan kepadanya. Kini aku bisa memaklumi sikap dan ucapannya akhir-akhir ini.

Aku tahu, dia sebenarnya saat ini butuh waktu untuk menyendiri dan menenangkan diri. Namun pekerjaannya saat ini tak memungkinkannya mengambil cuti. Memang sih, banyak orang yang berkata bahwa seseorang seharusnya mampu bersikap profesional, memisahkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan. Kupikir hal itu pastilah sangat sulit. Aku sendiri jika berada dalam posisinya mungkin saja malah lebih terpuruk lagi daripada dia.

Kini aku memandangnya sebagai manusia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Aku menghormati keputusannya untuk tetap bungkam dan tak mau berbagi tentang masalah pribadinya. Yang jelas, kini perasaan jengkelku kepadanya jadi jauh berkurang. Kupikir, setelah masalah pribadinya teratasi, dia akan bersikap jauh lebih baik. Setidaknya, aku bisa memberinya sedikit ruang untuk menenangkan diri.

Kejadian ini membuatku berpikir, bahwa jika kita mau merubah sudut pandang kita, maka bisa saja hal-hal yang tampaknya buruk bisa berubah menjadi lebih baik. Hanya saja, seringkali kita sudah terjebak dengan apa yang pertama kita lihat atau kita dengar. Opini atau pendapat yang muncul dari apa yang pertama kita dengar atau kita lihat itu, seringkali langsung kita percayai kebenarannya. Padahal belum tentu kebenarannya. Iya kan..?

Sebuah ilustrasi menarik aku tampilkan disini. Sebuah contoh bahwa ternyata pandangan manusia bisa juga menipu.

Ini gambar seorang pria yang sedang main musik atau fambar seorang wanita ?
Gambar diambil dari sini



Hitung berapa jumlah bola-bola hitamnya..!

Apa yang mungkin terlihat betul di mata kita, bisa jadi salah di mata orang lain. Jadi, selayaknya kita tak perlu buru-buru untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu, apalagi jika kita tak paham duduk permasalahan yang sebenarnya. Untuk hal ini, aku yakin sekali... teman-teman pasti setuju. *Semoga kali ini aku tak salah menilai*

Bacanya dilanjutkan yuk......

Jumat, 30 Oktober 2009

Menjalani hidup

Ini kisah dari seorang kawan. Awalnya dia kukenal sebagai orang yang ceria dan terbuka, namun selama sebulan ini tiba-tiba sikapnya berubah. Dia menjadi pendiam, bahkan cenderung pemurung dan tertutup. Aku dan teman-teman yang lain heran dengan perubahannya itu. Dia seperti orang yang tak memiliki semangat sama sekali dalam menjalani hidup.

Hingga suatu kali, entah apa awalnya aku lupa, dia bicara banyak kepadaku. Diceritakan kepadaku bahwa suatu ketika dia telah membuat pilihan hidup yang salah. Akibat dari kesalahan itu, dia merasa hidupnya tak lagi bahagia. Baginya, kesalahan yang pernah diambilnya telah menutup jalan menuju kebahagiaan.

Aku tertegun mendengar ceritanya. Sungguh aku tak habis pikir mengapa dia telah melewatkan banyak waktu dan kesempatan untuk meraih bahagia hanya karena sebuah kesalahan yang telah diperbuatnya. Meskipun kesalahan itu telah terjadi, toh kehidupannya tetap harus berjalan dan dia berhak untuk merasakan kebahagiaan.

Hidup itu pilihan, kawan. Terserah pada kita apakah kita ingin bahagia atau tidak. Terserah kita apakah kita ingin memanfaatkan hidup dengan sebaik-baiknya atau tidak. Masih banyak peluang untuk memberikan yang terbaik untuk diri kita dan juga orang lain. Kita sebagai manusia memang tak akan luput dari kesalahan, namun jika kita berbuat kesalahan itu bukan berarti akhir dari segalanya.

Aku kembali teringat dengan sebuah email dari seorang kawan lama. Email ini sudah lama sekali aku terima, sengaja aku cari untuk aku bagi kepada kawanku yang berduka itu. Alhamdulillah..., kini dia kembali bisa tersenyum. Dia telah mencoba berdamai dengan dirinya sendiri dan menerima akibat dari kesalahan yang telah dipilihnya. Dia kembali bersemangat untuk meraih kembali kebahagiaannya.

Ohya, ini adalah email yang aku dapatkan dari seorang kawan lama dan telah aku bagikan kepada kawan yang bermasalah itu. Meskipun ini email sederhana, semoga saja tetap dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Semoga...

Seorang mahasiswa kuliahnya tidak serius. Kadang masuk kuliah kadang tidak, tugas terbengkalai, SKS yang harus dikejar masih banyak, dan jarang sekali belajar. Begitu ditanya ternyata dia merasa terjebak masuk ke jurusan yang dipilihnya karena dia hanya ikut-ikutan saja. Teman-temannya masuk jurusan tersebut, dia pun ikut.

“Mengapa kamu tidak pindah saja?” tanya temannya, Budi.

“Ah, biarlah, nasi sudah menjadi bubur” jawabnya, tidak peduli.

“Apakah kamu akan tetap seperti ini?”

“Mau gimana lagi, saya bilang nasi sudah jadi bubur, tidak bisa diperbaiki lagi.” jawabnya berargumen.

“Kalau kamu pindah kejurusan yang kamu sukai, kan kamu akan lebih enjoy.” kata temannya.

“Saya ini sudah tua, masa harus kuliah dari awal lagi. Saya terlambat menyadari kalau saya salah masuk jurusan.” jelasnya sambil merebahkan diri di kasur dan mengambil remote control TV-nya.

“Memang tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi?” selidik temannya.

“Tidak, saya sudah katakan berulang-ulang nasi sudah jadi bubur.”

Temannya pun diam sejenak, dia bingung melihat temannya yang sudah tidak semangat lagi. Kemudian dia teringat pada temannya yang memiliki nasib yang sama, salah memilih jurusan. Dia pun pulang ke rumahnya kemudian menelpon temannya tersebut.

“Jaka, perasaan kamu pernah cerita sama saya, kalau kamu salah memilih jurusan?” tanya Budi kepada Jaka.

“Memang saya salah memilih jurusan, memangnya kenapa?” jawab Jaka.

“Yang saya heran, kenapa kamu tetap semangat kuliah, sedangkan teman saya malah malas dan tidak serius kuliahnya.”

“Yah nggak tahu yah, saya juga dulu sempat seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak lagi.” jelas Jaka.

“Apa sich resepnya?”

“Pertama saya merelakan diri masuk jurusan ini. Mungkin ini yang terbaik menurut Allah. Jadi saya terima saja.”

“Terus?” kata Budi bersemangat

“Yang kedua, saya mencari cara menggabungkan ilmu yang saya miliki dijurusan ini, dengan hobi saya. Ternyata saya menjadi enjoy saja. Memang, saya terlanjur memilih jurusan ini, kata orang, nasi sudah jadi bubur. Tetapi kalau saya, nasi sudah menjadi bubur ayam spesial yang enak dan lebih mahal harganya ketimbang nasi.”

“Oh gitu….”

“Yah, kalau kita menyesali tidak ada manfaatnya. Kalau kita berusaha mengubah bubur jadi nasi, itu tidak mungkin. Satu-satunya cara ialah membuat bubur tersebut menjadi lebih nikmat, saya tambahkan ayam, ampela, telor, dan bumbu. Rasanya enak dan lebih mahal” jelas Jaka sambil tersenyum lebar.

Bacanya dilanjutkan yuk......

Rabu, 28 Oktober 2009

Setahun sudah

Ternyata, waktu cepat sekali berlalu. Tak terasa, setahun sudah blog "Catatan Kecilku" ini aku lahirkan, pada tanggal 28 Oktober 2008 yang lalu. Padahal, dulu awal membuat blog aku sama sekali tidak percaya diri dan tidak yakin bahwa blog ini dapat berumur panjang. Tapi ternyata..., 1 tahun telah aku lewati dan blog ini masih "baik-baik saja" ^_^

Kalau aku membaca Catatan Pertamaku di blog ini..., terasa lucu dan wagu sekali. Terlihat sekali aku masih sangat kaku menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan. Namun, setelah sekian lama berlatih menulis, aku merasa kemampuanku sedikit demi sedikit semakin membaik. Eh, itu perasaanku saja lho.., entah kalau menurut penilaian dari sahabat semua. Tapi setidaknya, makin lama aku makin menikmati acara menulis ini.


Setelah setahun berkecimpung dalam blog ini, ternyata aku sudah menghasilkan banyak tulisan. Ini adalah tulisanku yang ke-254 di blog Catatan Kecilku ini. Sudah banyak juga ya ternyata.... aku sendiri tak menyangka bisa menulis sebanyak itu dalam rentang waktu 1 tahun hehehe....

Setelah aku cermati lagi, dari ke-254 postingan itu aku bagi dalam 12 label yaitu : award-ku (38 postingan), berita-ku (14), buku-ku (14), cerita-ku (78), curhat-ku (55), inspirasi-ku (23), kenangan-ku (25), opini-ku (21), puisi-ku (4), seputar-ku (35), Tugas-ku (3) dan wisata-ku (8). Khusus untuk postingan award-ku, telah aku pindahkan semua ke dalam blog "The Others.." namun begitu yang di sini tidak aku hapus, agar aku tetap dapat menghitung jumlah semua postingan di dalam blog ini secara riil.

Tentu saja, hal yang terbanyak aku catatkan disini adalah tentang cerita-ku, curhat-ku, seputar-ku dan kenangan-ku, karena blog ini adalah laksana catatan diriku. Segala hal yang menyangkut diriku sengaja aku tuangkan dalam blog ini. Sebuah blog yang dimaksudkan 'ringan' sekedar sarana bagiku untuk menyegarkan pikiran setelah seharian berkutat dengan pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah tangga.

Semua tulisanku mengesankan untukku. Ya iyalah..., karena aku menyadari bahwa aku tak mudah membuatnya. Sehingga ketika tulisan itu berani aku publikasikan, itu karena sudah kuanggap 'layak' hehehe. Hanya satu yang sampai sekarang aku belum puas, yaitu ketika aku mencoba menulis puisi hasilnya selalu saja jelek. Hu uh... pengen banget bisa menulis puisi yang indah, tapi sampai sekarang belum berhasil.

Aku paling aktif dan semangat untuk ngeblog adalah bulan April 2009. Pada bulan itu, aku berhasil membuat 30 postingan..!! Itu rekor terbaikku lho... ^_^ Bulan selanjutnya, yaitu Mei 2009 aku masih memiliki 'sisa' semangat itu, karena dalam 1 bulan aku berhasil membuat 27 postingan. Kebetulan, bulan-bulan itu aku belum terlalu disibukkan dengan pekerjaan kantor, sehingga semangatku untuk ngeblog dapat tersalurkan hehehe...

Terima kasih untuk sahabat semua yang senantiasa memberikan dukungan untukku sehingga aku makin semangat untuk ngeblog. Juga terima kasih tak terhingga bagi semua sahabat yang telah dengan sukarela memberikan bantuan kepadaku, terutama yang menyangkut teknis ngeblog, sehingga aku dapat memiliki blog yang (menurutku) cantik ini (dilarang protes bagi yang kurang berkenan hehehe..).

Terima kasih semuanya.... Aku sungguh tak menyesal telah mengenal blog dan mengenal kalian semua... I love you all....

Bacanya dilanjutkan yuk......

Selasa, 27 Oktober 2009

Mengapa ?

Anak kecil seringkali mampu melakukan hal-hal yang menakjubkan. Sebagai contoh, mereka seringkali mengajukan berbagai pertanyaan yang tak terduga, yang bahkan tak pernah kita duga bahwa pertanyaan seperti itu akan keluar dari mulutnya. Bahkan seringkali kita pun tak memiliki jawaban yang tepat untuk menjawabnya.

Masih seputar pertanyaan dari anak-anak, beberapa hari yang lalu aku mendapatkan email dari seorang kawan tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh seorang anak kecil yang pada akhirnya membuat orangtuanya kewalahan untuk menjawabnya. Semoga kita dapat belajar dari kisah berikut ini.
Tampang bingung. Itulah gambaran yang bisa dilukiskan di wajah seorang bocah 6 tahun, saat melihat lalu-lalangnya kendaraan di jalan. Bocah itu seakan tidak memperdulikan hilir mudik orang-orang yang melaluinya bahkan ada beberapa orang yang hampir menendangnya. Dia pun seakan tidak senang saat beberapa orang yang lewat memasukan uang receh ke dalam kaleng yang sengaja di simpan di depannya.

“Sudah dapat berapa Ujang?” sapa seorang wanita umur 40 tahunan yang mengagetkan si Ujang. Si Ujang menengok wanita yang nampak lebih tua dari umur sebenarnya. Wanita itu tiada lain adalah ibunya yang sama-sama membuka praktek mengemis sekitar 100-200 meter dari tempat si Ujang mengemis.

“Nggak tahu Mak, hitung aja sendiri,” jawab si Ujang sambil melihat kaleng yang ada di depannya. Tanpa menunggu, wanita yang dipanggil Emak itu mengambil kaleng yang ada di depan si Ujang. Kemudian isi kaleng tersebut ditumpahkan ke atas kertas koran yang menjadi alas mereka duduk.

“Lumayan Ujang, bisa membeli nasi malam ini. Sisanya buat membeli kupat tahu besok pagi.” Kata si Emak sambil tersenyum lebar, karena rezeki malam itu lebih banyak dari hari-hari biasanya.

“Mak…” kata si Ujang tanpa menghiraukan ucapan ibunya, “Koq orang lain punya mobil? Kenapa Emak nggak punya?” Tanya si Ujang sambil menatap wajah ibunya.

“Ah, si Ujang mah, aya-aya wae, boro-boro punya mobil, saung aja kita mah nggak punya.” kata si Emak sambil tersenyum. Si Emak kemudian membungkus uang yang telah dipisahkannya untuk besok dengan sapu tangan yang sudah lusuh dan dekil.

“Iya, tapi kenapa Mak?” Rupanya jawaban si Emak tidak memuaskan si Ujang.

“Ujang …. Ujang….” kata si Emak sambil tersenyum. “Kita tidak punya uang banyak untuk membeli mobil.” kata si Emak mencoba menjelaskan. Tetapi nampaknya si Ujang belum puas juga,

“Kenapa kita tidak punya uang banyak Mak?” tanyanya sambil melirik si Emak.

“Kitakan cuma pengemis, kalau orang lain mah kerja kantoran jadi uangnya banyak.” kata si Emak yang nampak akan beranjak. Seperti biasa sehabis matahari tenggelam si Emak membeli nasi dengan porsi agak banyak dengan 3 potong tempe atau tahu. Satu potong untuk si Emak sedangkan 2 potong untuk si Ujang anak semata wayangnya.

Sekembali membeli nasi, si Ujang masih menyimpan pertanyaan. Raut wajah si Ujang masih nampak bingung.

“Ada apa lagi Ujang?” kata si Emak sambil menyeka keringat di keningnya.

“Kenapa Emak nggak kerja kantoran saja?” tanya si Ujang dengan polosnya.

“Siapa yang mau ngasih kerjaan ke Emak, Emak mah orang bodoh, tidak sekolah.” Jawab si Emak sambil membuka bungkusan yang dibawanya.

“Udah …, sekarang makan dulu mumpung masih hangat!” Kata si Emak sambil mendekatkan nasi ke depan si Ujang. Si Ujang yang memang sudah lapar langsung menyantap makanan yang ada di depannya.

“Kenapa Emak nggak sekolah?” tanya si Ujang sambil mengunyah nasi plus tempe.

“Orang tua Emak nggak punya uang, jadi Emak nggak bisa sekolah.”

“Ujang bakal sekolah nggak?” kata si Ujang sambil menatap mata si Emak penuh harap.

Emak agak bingung menjawab pertanyaan si Ujang. Lamunan Emak menerawang mengingat kembali mendiang suaminya, yang telah mendahuluinya. Mata si Emak mulai berkaca-kaca. Karena gelapnya malam, si Ujang tidak melihat butiran bening yang mulai menuruni pipi wanita yang dipanggil Emak tersebut. Karena tak kunjung dijawab, si Ujang bertanya lagi

“Kalau Ujang nggak sekolah, nanti kayak Emak lagi dong. Iya kan Mak?”

Pertanyaan Ujang makin menyesakkan dada si Emak. Siapa yang ingin punya anak menjadi pengemis, tetapi si Emak bingung harus berbuat apa. Si Emak cuma melanjutkan menghabiskan nasi sambil menahan tangisnya. Akhirnya si Ujang pun diam sambil mengunyah nasi yang tinggal sedikit lagi. Deru mesin mobil menemani dua insan di pinggir jalan yang sedang menikmati rezeki Allah SWT yang mereka dapatkan. Diterangi lampu jalan mereka pun mulai berbenah untuk merebahkan diri. Di kepala si Ujang masih penuh tanda tanya, mau jadi apa dia kelak. Apakah akan sama seperti Emaknya saat ini?
Sebuah kisah yang memotret keluguan dan rasa ingin tahu anak. Sebuah potret tentang seorang anak yang khawatir mendapatkan 'warisan' kemiskinan dan kebodohan. Sebuah gambaran tentang orang tua yang tak berdaya dalam memberikan kehidupan yang lebih baik kepada buah hatinya. Sebuah cerita tentang pertanyaan yang hanya mampu dijawab dalam kepedihan yang bisu.... Semoga tak akan ada lagi pertanyaan serupa pada generasi penerus kita....

Bacanya dilanjutkan yuk......